Sepak Bola – Hiburan Urang Bandung Baheula

Sejarah Sepak Bola Bandung – Salah satu faktor yang membuat sepak bola begitu berkembang di Hindia Belanda adalah faktor hiburan. Rakyat Hindia Belanda yang begitu tertekan di bawah aturan kolonial, menerima sepak bola baik untuk dimainkan maupun hanya sebagai tontonan. Karena sepak bola berhasil menyedot massa yang cukup banyak, olah raga ini kemudian dimanfaatkan, baik oleh para kaum pergerakan, maupun oleh para pengusaha hiburan.

Dalam bukunya yang berjudul Politik dan Sepak Bola, Srie Agustina Palupi menggambarkan bagaimana para pemain sepak bola mendapatkan bayaran dari pengusaha tonil, opera, atau sandiwara keliling. Mereka dipekerjakan untuk bermain membela tim sandiwara dan bermain dari kota ke kota. Jika tim sandiwara berhasil memuaskan penonton, maka nama Grup Sandiwara akan ikut terkenal dan membuat pertunjukan sandiwara yang mereka gelar di malam hari menjadi ramai.

Di Bandung, pertandingan sepak bola sudah menjadi hiburan yang bernilai ekonomi. Misalnya saja, Palupi menulis bagaimana organisasi Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) berhasil menghimpun pemasukan sekitar 12 ribu dan 10 ribu Gulden di tahun 1922 dan 1925.

Menyambung tulisan pertama, sepak bola di Bandung tempo dulu kadang terkait dengan bioskop yang ada di Kota Bandung. Ini terjadi saat permainan si kulit bundar dimainkan di Alun-alun Kota. Sjarif Amin sempat menuliskan pengalamannya bagaimana menonton sepak bola saat kanak-kanak pada tahun 1920-an dalam bukunya “Keur Kuring di Bandung”.

Berdasarkan ingatan penulis dengan nama Moh. Kurdi ini, lapangan sepak bola di Alun-alun memajang dari sisi selatan ke utara dengan panggung penonton terletak di sisi barat membelakangi Mesjid Agung. Kesaksian Sjarif Amin kecil tadi sesuai dengan foto di sebuah situs Belanda yang mengabadikan pertandingan sepak bola di Alun-alun dengan gawang yang berada di sisi Selatan dan Utara. Letak pintu masuk untuk penonton terletak di sisi utara agak ke arah barat, sisi yang juga ditempati oleh para penjual makanan.

Lapangan besar sebelah utara pendopo kabupaten ini memang menjadi tempat untuk berbagai kegiatan dan hiburan. Dari mulai pertandingan panahan, gulat, hingga hiburan sirkus, termasuk sepak bola. Bahkan di tahun 1916, lapangan ini menjadi pusat penyelenggaraan kongres Sarekat Islam. Jika sedang ada pertandingan sepak bola, sekeliling Alun-alun akan ditutup pagar dan tirai kayu yang tinggi.

Bagi mereka yang tak memiliki cukup uang untuk membeli tiket, beberapa usaha kerap dilakukan agar bisa tetap menyaksikan pertandingan. Cara pertama adalah dengan ikut bergerombol di dekat pintu masuk dan menanti penjaga lengah ketika banyak penonton yang masuk bersamaan.

Jika cara tadi tak berhasil, penonton irit ini dapat mencoba memanjat pohon beringin yang merupakan salah satu elemen tradisional dalam tata ruang alun-alun. Tapi langkah ini bukan tanpa resiko, karena sewaktu-waktu Sakaut (Schout) bisa menyodokan kelewangnya dari bawah pohon. Bendul logam di ujung sarung klewang cukup terasa sakit jika mengenai kaki.

Mungkin cara-cara tadi tidak aneh bagi kita sekarang.

Seperti halnya ketika Persib masih bermarkas di Stadion Siliwangi, bocah-bocah kerap berkumpul di sekitar pintu masuk untuk kemudian berharap bisa ikut masuk dalam rombongan penonton. Atau mereka yang sudah cukup dewasa akan memilih memanjat pohon-pohon di sekeliling Stadion Siliwangi demi menonton pertandingan secara gratis. Memang tak ada resiko sakaut/polisi yang bakalan memukul penonton dari bawah pohon, tapi kini yang menjadi musuh adalah faktor alam seperti angin besar yang mengoyangkan pepohonan, atau bagaimana tiba-tiba rangka yang dulu pernah ada dan biasa dipakai untuk latihan panjat dinding bisa ambruk begitu saja.

Cara terakhir yang dilakukan oleh penonton tak bermodal di Bandung baheula masih menurut Sjarif Amin, adalah dengan ikut menonton dari bioskop yang berada di sekitar lingkungan Alun-alun Bandung, yakni di Scala Theater yang terdiri dari tiga Bisokop yaitu Elita, Varia dan Oriental.

Jajaran bioskop yang terletak di bagian timur Alun-alun ini adalah salah satu jaringan bioskop milik F. Buse, yang namanya tertulis di artikel pertama.

Penonton sepak bola biasanya akan menyogok sebatang rokok merk “Westminster” untuk seorang pegawai pemutar film di Bioskop Oriental. Penjaga itu bernama Mang Salya, dan para penonton tak bermodal ini menyogok supaya diperbolehkan ikut menonton dari jendela ruang pemutaran film di bagian atas. Jadi bagi penggemar sepak bola bandung, mereka datang ke bioskop justru bukan untuk menonton filmya, tapi demi bisa menyaksikan pertandingan gratisan.

Suatu budaya menonton yang diwariskan ke generasi sekarang.

Bagi penonton sepak bola di Bandung tempo dulu, pertandingan maen bal saat itu memang sayang untuk dilewatkan. Bond atau persatuan sepabola orang Belanda seperti NIVB yang kemudian berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) atau bond pribumi seperti Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) kerap melakukan districtwedstrijden (pertandingan antar distrik) hingga stedenwedstrijden atau stedentournooi (turnamen antara kota). Bahkan sering juga dilangsungkan pertandingan persahabatan dengan mengundang kesebelasan manca negara.

Sjarif Amin yang kemudian menjadi jurnalis di koran “Sipatahoenan” serta aktif di organisasi “Paguyuban Pasundan” mencatat, beberapa kesebelasan luar negeri yang pernah bertandang ke Bandung. Di antaranya ialah klub Selangor dengan statusnya sebagai juara Singapura, dan Kesebelasan Calcutta Wanderers dan Mohan Bagan dari India yang membawa bintangnya Samad.

Kesebelasan di benua Asia yang juga mampir ke Bandung adalah Malay-Team dengan tiga pemain depan bintang lapangannya yaitu : Moehammad Noer, Doelah, dan Doelpatah. Kesebelasan dari dataran Tiongkok seperti Loh Hua, Chung Hua, dan Nan Hua dengan bintangnya Lee Way Tong.

Kesebelasan Sidolig, Bandung pernah juga kedatangan tim sepak bola Universitas Kansai dari Jepang.

Tak hanya kesebelasan dari benua Asia, Bandung juga kedatangan tamu yang melawat dari Eropa seperti kesebelasan Grazer dari Hongaria yang membawa bintangnya Si Raja Bola, Petr Buchta yang pernah membela Bohemia dan Republik Ceko.

Dengan kwalitas pertandingan sepak bola seperti tadi, tentu melewatkan tontonan berkelas bagi kota di pegunungan Priangan adalah sebuah kerugian. Jadi dilakukan segala cara agar bisa menyaksikan pertandingan sepak bola.

Jadi warga Bandung saat itu tak hanya mengenal film-film dengan bintang-bintang ternamanya tapi juga sudah akrab dengan pertandingan sepak bola yang cukup bagus kelasnya. Jangan heran, jika para penonton Kota Bandung saat ini akan kecewa, jika satu pertandingan dimainkan tidak dengan standar keindahan mereka.