The Veteran Match di Bandung Tempo Doeloe

Sepakbola bukan hanya tentang menendang bola, membuat gol, dan mengalahkan lawan. Sepak bola juga berinteraksi dengan hal-hal lain, seperti sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. The Veteran Match di Bandung Tempo Doeloe adalah judul pertama penulisan dengan tema ” Sejarah Sepakbola di Bandung Tempo Doeloe”. Makalah ini adalah tentang bagaimana sepakbola dapat disatukan di komunitas kota terbuka bernama Bandung.

Pemain lama, senior atau veteran yang mungkin telah mencapai status legenda dari tim biasanya akan kembali bermain bukan untuk mengejar prestasi, tentu saja, tetapi biasanya lebih untuk nostalgia ketika melakukan amal. Ambil contoh pertandingan Legend Liverpool vs Milan Glorie. Itu bisa jadi contoh di luar negeri. Nasional dan lokal, pemain veteran Persib Bandung sering melakukan pertandingan serupa.

Fenomena ini tentu bukan hal baru dalam sepakbola. Bahkan dalam kompetisi sebelumnya, veteran adalah politisi yang menjadi pemimpin gerakan nasional. Seperti, pertandingan antara tim Oto Iskandar di Nata melawan Moh. Husni Thamrin yang menurut Iip D. Yahya dalam bukunya “Oto Iskandar di Nata The Untold Story” diadakan pada 16 Mei 1932.

Pertandingan yang mempertemukan pemimpin Jakarta dan Bandung itu memang berakhir dengan skor 0-0. Namun yang terpenting, tujuan sepakbola tentu tercapai. Selain sebagai hiburan, acara ini diadakan sebagai tempat berkumpul dan berkumpul, yang pada waktu itu sangat dilarang oleh pemerintah Hindia.

Selain pesta tradisional, pesta kulit putih tidak kalah dengan kompetisi pameran antara veteran. Di situs web Universitas Leiden di Belanda kita dapat menemukan foto-foto klub sepakbola veteran “Olahraga di Lucht Is Gezond Open” (SIDOLIG) Bandung pada tahun 1927. Dalam foto itu, sejumlah pemain mengambil gambar di depan target. Apa yang membuat foto itu menarik adalah papan iklan yang ada di belakang tujuan yang akan menjadi titik awal penulisan ini.

Sidolig adalah salah satu pelopor klub sepakbola di Bandung. Sebuah klub yang terletak di sebelah timur Jalan Pos Bagain (Jalan Ahmad Yani, sekarang) didirikan pada tahun 1902, dengan nama Spelen in de open lucht adalah gezond. Keberadaan SIDOLIG diikuti oleh klub Uitspanning Na Inspanning (UNI) yang didirikan pada tahun 1903. Di situs web yang sama, klub tertua yang didirikan di Bandung adalah B.V.C. (Bandoengsche Voetbal Club), yang didirikan pada 1900.

Di papan reklame di atas, ada dua perusahaan di Bandung yang beriklan di lapangan sepak bola. Pertama adalah perusahaan percetakan dan penerbitan buku AC Nix & Co yang berlokasi di Landraadweg atau Jl. Pelopor Kemerdekaan sekarang. Untuk bahasa asli, perusahaan yang telah mengubah namanya menjadi N.V Ganaco dan N.V. The New Age, dan sekarang tanah menjadi bank swasta masih disebut sebagai “Asenik”.

Perusahaan kedua adalah toko roti M.A. Jacobs sebelumnya (dalam foto terlihat singkatan v.h. atau vorheen) dikenal sebagai Vogelpoel. Dalam buku “Braga Heart of Parijs van Java”, Maison Vogelpoel terletak di pergantian Jl. Braga dan Jl. Naripan dan kemudian untuk penduduk Bandung lebih dikenal sebagai Baltik Es Krim pada tahun 1970. Maison Vogelpoel adalah salah satu bisnis yang dimiliki oleh T.H. Voegelpoel selain rumah lelang “Vendu en Commissiehandel Voegelpoel, ball house dan bioskop.

Masih mengutip dari sebuah buku yang ditulis oleh Ridwan Hutagalung, awalnya Bioskop Voegelpoel bernama Helios Bisocop yang merupakan bagian dari Teater Braga pada tahun 1910 berlokasi di Jl. Coorde (Jalan Kantor Kejaksaan). Pada tahun 1917 teater ini kemudian lebih dikenal sebagai pemilik T.H. Voegelpoel pindah ke tanah yang kemudian menjadi Societeit Ons Genoegen, yang sekarang YPK Naripan.

Selain T.H. Voegelpoel, warga Bandung yang memiliki bisnis boscope adalah F.F. Buse. Menurut Misbach Yusa Biran dalam “Film History 1900-1950”, Buse adalah Raja Bioskop di Bandung yang bersaing dengan J.F.W. de Kort, pemilik bioskop Radio City, Regol, Taman Senang, Penghuni, Taman Hiburan. Selain sebagai pengusaha film, Buse yang memiliki darah Yahudi rupanya juga menyukai sepakbola. Selain sebagai olahraga, sepakbola sering digunakan sebagai hiburan baik oleh orang-orang Bandung, dan juga oleh orang-orang yang tinggal di pulau Jawa.